Postingan

Obrolan Warung Madura

Pria bersarung dan bersinglet itu berdiri kaku di balik etalase, matanya lurus menatap layar ponsel yang menyala terang. Dentum musik elektronik khas Pantura menggetarkan permukaan kaca etalase, merambat hingga ke ujung jari pria itu. "Mau beli apa, Dek?" tanya pria itu lagi. Anak itu menunjuk bungkusan oranye yang menggantung di sudut etalase. Tangan kecilnya terangkat, menggantung di udara, tak sampai. "Ini aja?" Pria itu merenggut bungkusan itu, membuat seluruh gantungan di depan etalase bergetar keras. "Itu aja, Om," kata si anak. "Dua ribu." Si anak menjajarkan koin-koin di atas permukaan kaca yang berdebu. Jempolnya menggeser koin satu per satu. "Seratus, dua ratus, tiga ratus..." "Sudah kelas berapa, Dek?" "Terakhir kelas tiga SD, Om." "Kok terakhir?" "Kalau ada uang, mudah-mudahan tahun depan bisa lanjut kelas empat." Pria itu terdiam, menatap koin yang bertebaran di telapak tangannya. ...

Obrolan Warkop

Buih air di tungku logam mengeluarkan asap panas, beriak tak keruan. Seorang pria berusia awal dua puluhan mengangkat tutup tungku menggunakan kain kusam. Uap menyembul ke udara. ​Gelas plastik berisi serbuk kopi hitam masih menunggu di atas meja kayu yang lembap. Seorang wanita uzur dengan jilbab merah lusuh tiba, mendekap sajadah dan lipatan mukena di lengannya. ​"Jang, mie gorengnya hiji, teh anget genep," pesan sang ibu. ​"Oke Bu, sekedap ya," jawab pria itu. ​"Sekalian deh, A," sahutku menyodorkan gelas teh yang baru saja kosong. Kantung teh bekas terkulai di dasarnya. ​"Sama lagi apa beda, A?" ​"Samain aja, biar enggak usah ganti gelas." ​Panci rebusan mi instan mendidih. Pria itu memasukkan mi yang baru saja dikeluarkan dari bungkusnya. Plastik bumbu, minyak, dan kecap digunting, tumpah di mangkok porselen. ​"Eh, di sini apa dibungkus, Bu?" tanya pria itu. ​"Dibungkus, Ujang." ​"Wah, sudah terlanjur. Tapi...

Adil?

Ia datang larut malam sekali. Masuk ke kamar hotel, dan langsung merebahkan tubuhnya ke sofa. Hampa. Badannya basah, memang hujan belakangan ini bagai amukan alam. Ia sempatkan mengambil handuk kecil, untuk mengeringkan wajahnya. Tapi tubuhnya, ia biarkan basah, seperti tak peduli lagi. Kemacetan ibukota juga masih terlihat dari balik jendela kamarnya. Gemerlapnya belum habis. Pemandangan yang menyimpan banyak cerita. Tapi seakan tidak berarti. Hari itu cukup berat baginya. Jika ia mengisahkannya pun, jarang yang akan mau mendengar. Sebuah kesalahan harus ia pikul sendirian. Masih segar nasihat sang ibu, dan banyak orang lain, tapi ia mengabaikannya. Cinta memang menyenangkan. Tapi buruk jika berlebihan. Jangan ditanya soal pengalaman ataupun kemampuan. Kodrat Tuhan bahwa ia punya paras rupawan. Ia akan hidup lebih nyaman, kan? Hotel itu punya fasilitas cukup mewah. Ornamen kayu asli, bergaya eropa klasik, sentuhannya berkelas. Kamar yang ia tempati pun berkelas, walau kalah deng...

Dua Sisi

 Pagi hari,  Aku harus bertemu seorang sahabat, yang lama tiada. Saat pemakamannya pun, aku tak sanggup hadir.  1000 hari berlalu, akhirnya aku bisa bertemu, walau hanya batu nisan dalam pandanganku. Tak kuasa air mata kubendung. Walau itulah kenyataan yang ada Sore hari, Aku mengantarkan seorang lagi sahabatku, untuk mengikat wanita idamannya, menjadi calon istri, bertunangan. Tanggal telah ditentukan, persiapan telah matang, tinggal menghitung hari, sampai bahagianya tiba. Dua sisi kehidupan, yang kuhadapi dalam kurang dari 12 jam, kesedihan, juga kebahagiaan.  Aku pun ada dikeduanya. Maka hanya yang ada dalam keheningan, yang ada dalam ketiadaanlah yang berhak menilai, mengatur, mengapa aku ada diantara keduanya.

Heri dan si Kuda Besi

Kisah ini kudapat dari seorang kawan, mentor, hingga partner bisnis, maupun kehidupan. Inilah kisah hidupnya yang hebat, hingga kupersembahkan tulisan ini untuknya.   Sebut saja namanya Heri. Segala macam bisnis dijalaninya. Mulai dari medio 90an, hingga sekarang.  Heri terkenal tangguh dan ulet. Terbukti, bisnisnya beberapa masih bertahan. Meski, tak sedikit pula yang gulung tikar. Kendala dinamika jaman katanya. Namun Heri selalu punya cara untuk beradaptasi.  Sore di penghujung 1999 contohnya. Ia baru saja memiliki dua unit komputer. Alat yang setiap pengusaha dambakan kala itu. Seakan, urusan dunia menjadi amat mudah dengan adanya komputer. Hingga santer terdengar isu bahwa, kiamat komputer akan terjadi pada tahun baru 2000. Yap, ia pun memakan isu itu mentah-mentah. Terjualah unit komputer baru yang ia miliki kala itu, tentu dengan harga yang bisa ditebak, amat murah. Ia lantas menyerah? Tentu tidak. Setelah terbukti kiamat itu tidak terjadi, ia 'balas dendam' dengan...

Human After All

You're human after all.  Sekuat-kuatnya pundak manusia,  Tuhan pasti maha adil.  Kebahagiaan hadir,  Kesedihan pun nyata.  Seperti kisah mereka.  Pernikahan, mesra bersama. Ratu dan raja sehari.  Hingga  Kehadiran sang bayi, tinggal menghitung hari.  Namun rupanya semesta punya cara lain. Jalan, untuk dilalui.  Meski hanya salah satu, dari tiga, yang boleh melintas.  You're human after all

Negeri Mimpi

Aku punya banyak mimpi Mulai dari keinginan sendiri, Hingga mimpi membangun negeri Membangun manusianya, Merawat alamnya, Membangkitkan ekonominya. Aku harus melangkah, Kecil, besar, dan tepat terarah, Tekad dan mimpiku harus tercurah.