Obrolan Warung Madura

Pria bersarung dan bersinglet itu berdiri kaku di balik etalase, matanya lurus menatap layar ponsel yang menyala terang. Dentum musik elektronik khas Pantura menggetarkan permukaan kaca etalase, merambat hingga ke ujung jari pria itu.

"Mau beli apa, Dek?" tanya pria itu lagi.

Anak itu menunjuk bungkusan oranye yang menggantung di sudut etalase. Tangan kecilnya terangkat, menggantung di udara, tak sampai.

"Ini aja?" Pria itu merenggut bungkusan itu, membuat seluruh gantungan di depan etalase bergetar keras.

"Itu aja, Om," kata si anak.

"Dua ribu."

Si anak menjajarkan koin-koin di atas permukaan kaca yang berdebu. Jempolnya menggeser koin satu per satu. "Seratus, dua ratus, tiga ratus..."

"Sudah kelas berapa, Dek?"

"Terakhir kelas tiga SD, Om."

"Kok terakhir?"

"Kalau ada uang, mudah-mudahan tahun depan bisa lanjut kelas empat."

Pria itu terdiam, menatap koin yang bertebaran di telapak tangannya. "Oh," sahutnya pendek.

"Makasih ya, Om," kata si anak, menyampirkan ukulele kayu kecil lalu melangkah menjauh.

"Sama-sama. Cepat balik sekolah ya," balas pria itu. Matanya kembali menghitung koin di telapak tangan.

"Kurang dua ratus. Enggak apa-apa, amal," gumam pria itu. Ia menyapu koin itu ke dalam laci kayu, lalu kembali menatap layar ponsel yang masih bergetar.


Komentar

Postingan populer dari blog ini

PSK

Adil?

Human After All