Adil?
Ia datang larut malam sekali. Masuk ke kamar hotel, dan langsung merebahkan tubuhnya ke sofa. Hampa. Badannya basah, memang hujan belakangan ini bagai amukan alam. Ia sempatkan mengambil handuk kecil, untuk mengeringkan wajahnya. Tapi tubuhnya, ia biarkan basah, seperti tak peduli lagi.
Kemacetan ibukota juga masih terlihat dari balik jendela kamarnya. Gemerlapnya belum habis. Pemandangan yang menyimpan banyak cerita. Tapi seakan tidak berarti.
Hari itu cukup berat baginya. Jika ia mengisahkannya pun, jarang yang akan mau mendengar. Sebuah kesalahan harus ia pikul sendirian. Masih segar nasihat sang ibu, dan banyak orang lain, tapi ia mengabaikannya. Cinta memang menyenangkan. Tapi buruk jika berlebihan.
Hotel itu punya fasilitas cukup mewah. Ornamen kayu asli, bergaya eropa klasik, sentuhannya berkelas. Kamar yang ia tempati pun berkelas, walau kalah dengan kamar president suite di hotel itu. Tapi bagi wanita berumur dibawah 25 tahun sepertinya, mampu menginap di hotel semewah itu adalah suatu hal lebih. Ya, ia menjadi simpanan dari pria super kaya.
------
Disisi lain kota, seorang pria,tangannya hitam berlumuran oli. Motor tuanya mogok. Pria itu harus membetulkannya sendiri di tengah guyuran hujan. Uangnya belum cukup untuk sekedar ke bengkel, yang pastinya tidak akan murah, karena motornya sudah terlalu usang dan tua. Spare part nya pun mungkin sudah tidak diproduksi lagi. Pria itu berusaha semampunya, walau susah payah, ia berhasil menghidupkan motornya.
Bagi pria itu, perjalanan hari ini adalah penentu nasibnya. Ia bangun pagi-pagi sekali. Memakai pakaian terbaik yang ia punya, memakai minyak rambut, dan memakai parfum yang ia sempatkan beli malam sebelumnya di warung terdekat. Pria itu punya kemampuan.
Perjalanannya lancar hingga tempat tujuan. Hati pria itu amat yakin. Kata demi kata ia lontarkan untuk meyakinkan pria-pria lain yang berjas dan berdasi mahal. "Ini jumlah uang yang tidak sedikit, apakah anda bisa memberikan garansi agar 'proyek' ini berhasil?". Pertanyaan klise yang bisa melumpuhkan mental pemikir kreatif, yang terhalang kendala dana.
Hujan yang amat deras malam itu, tidak menutupi senyum sumringah si pria. Dibalik kaca helm bututnya, ia tersenyum lebar. Walaupun motornya mogok, dan belum punya uang, pria itu masih tersenyum. Sampai tidak bisa tidur. Memang, pria itu sempat berpikir, apakah gelar sarjana, dan magisternya sia-sia ? Orang tuanya menggadaikan rumah dan menjual banyak hal untuk membiayai kuliah sarjananya. Gelar magisternya pun ia raih dengan beasiswa . Umurnya belum genap 25 tahun, tapi prestasinya luar biasa. Walau berakhir dengan menjadi pengangguran di ibukota. Tapi hal itu mungkin segera teratasi.
----
Kemacetan ibukota juga masih terlihat dari balik jendela kamarnya. Gemerlapnya belum habis. Pemandangan yang menyimpan banyak cerita. Tapi seakan tidak berarti.
Hari itu cukup berat baginya. Jika ia mengisahkannya pun, jarang yang akan mau mendengar. Sebuah kesalahan harus ia pikul sendirian. Masih segar nasihat sang ibu, dan banyak orang lain, tapi ia mengabaikannya. Cinta memang menyenangkan. Tapi buruk jika berlebihan.
Jangan ditanya soal pengalaman ataupun kemampuan. Kodrat Tuhan bahwa ia punya paras rupawan. Ia akan hidup lebih nyaman, kan?
Hotel itu punya fasilitas cukup mewah. Ornamen kayu asli, bergaya eropa klasik, sentuhannya berkelas. Kamar yang ia tempati pun berkelas, walau kalah dengan kamar president suite di hotel itu. Tapi bagi wanita berumur dibawah 25 tahun sepertinya, mampu menginap di hotel semewah itu adalah suatu hal lebih. Ya, ia menjadi simpanan dari pria super kaya.
------
Disisi lain kota, seorang pria,tangannya hitam berlumuran oli. Motor tuanya mogok. Pria itu harus membetulkannya sendiri di tengah guyuran hujan. Uangnya belum cukup untuk sekedar ke bengkel, yang pastinya tidak akan murah, karena motornya sudah terlalu usang dan tua. Spare part nya pun mungkin sudah tidak diproduksi lagi. Pria itu berusaha semampunya, walau susah payah, ia berhasil menghidupkan motornya.
Bagi pria itu, perjalanan hari ini adalah penentu nasibnya. Ia bangun pagi-pagi sekali. Memakai pakaian terbaik yang ia punya, memakai minyak rambut, dan memakai parfum yang ia sempatkan beli malam sebelumnya di warung terdekat. Pria itu punya kemampuan.
Perjalanannya lancar hingga tempat tujuan. Hati pria itu amat yakin. Kata demi kata ia lontarkan untuk meyakinkan pria-pria lain yang berjas dan berdasi mahal. "Ini jumlah uang yang tidak sedikit, apakah anda bisa memberikan garansi agar 'proyek' ini berhasil?". Pertanyaan klise yang bisa melumpuhkan mental pemikir kreatif, yang terhalang kendala dana.
Hujan yang amat deras malam itu, tidak menutupi senyum sumringah si pria. Dibalik kaca helm bututnya, ia tersenyum lebar. Walaupun motornya mogok, dan belum punya uang, pria itu masih tersenyum. Sampai tidak bisa tidur. Memang, pria itu sempat berpikir, apakah gelar sarjana, dan magisternya sia-sia ? Orang tuanya menggadaikan rumah dan menjual banyak hal untuk membiayai kuliah sarjananya. Gelar magisternya pun ia raih dengan beasiswa . Umurnya belum genap 25 tahun, tapi prestasinya luar biasa. Walau berakhir dengan menjadi pengangguran di ibukota. Tapi hal itu mungkin segera teratasi.
----
Komentar
Posting Komentar