Ketika Sang Helios Menjelma Jadi Manusia

Aku tak tahu, kisah permulaan mana yang bisa kupercaya. Jika memang keturunan Mother Gaia, Sang Helios bisa menjelma menjadi manusia, mungkin itu kamu.

Aku menghadapi masa yang berat. Bolehlah sesekali, laki-laki satu ini berhenti sejenak, mengambil nafas, melihat keadaan sekitar, sebelum lanjut berjalan. 

Masa berat itu, beriringan dengan suasana semu, kelabu. Bagai hujan di penghujung Desember. Minim cahaya, dingin, dan basah.

Tak nyaman. Pilihannya hanya lanjut terus, atau menunggu. Sampai kapan menunggu? Tak tahu. Detik? Menit? Jam? Hari? Bulan? Tahun? Abad?

Memang sudah kodrat, bahwa Helios menjadi pembawa cahaya yang lembut dan hangat. Membuat beberapa orang diluar sana menjadi pemuja, dan menyembah dirinya.

Aku tak peduli siapa yang benar. Tapi aku yakin, ada wanita jelmaan Sang Helios, pembawa kehangatan dan kenyamanan. Bagai coklat panas dan selimut sutra di hari hujan kelabu. Bagai mercusuar penunjuk arah, hingga aku yakin, didepan sana, ada sesuatu yang besar yang bisa kuraih, walau belum tau apa bentuknya.

Siapakah kamu sebenarnya?

Komentar

Postingan populer dari blog ini

PSK

Negeri Mimpi