Obrolan Warkop

Buih air di tungku logam mengeluarkan asap panas, beriak tak keruan. Seorang pria berusia awal dua puluhan mengangkat tutup tungku menggunakan kain kusam. Uap menyembul ke udara.

​Gelas plastik berisi serbuk kopi hitam masih menunggu di atas meja kayu yang lembap. Seorang wanita uzur dengan jilbab merah lusuh tiba, mendekap sajadah dan lipatan mukena di lengannya.

​"Jang, mie gorengnya hiji, teh anget genep," pesan sang ibu.

​"Oke Bu, sekedap ya," jawab pria itu.

​"Sekalian deh, A," sahutku menyodorkan gelas teh yang baru saja kosong. Kantung teh bekas terkulai di dasarnya.

​"Sama lagi apa beda, A?"

​"Samain aja, biar enggak usah ganti gelas."

​Panci rebusan mi instan mendidih. Pria itu memasukkan mi yang baru saja dikeluarkan dari bungkusnya. Plastik bumbu, minyak, dan kecap digunting, tumpah di mangkok porselen.

​"Eh, di sini apa dibungkus, Bu?" tanya pria itu.

​"Dibungkus, Ujang."

​"Wah, sudah terlanjur. Tapi enggak apa-apa, nanti saya adukin baru dituang ke styrofoam," jawabnya. "Pakai telor, Bu?"

​"Enggak usah, cengek saja dua."

​Transaksi berakhir. Wanita itu kembali ke trotoar depan yang mulai gelap dengan tangan kanan yang sekaligus menenteng plastik mie, mukena, dan sajadah.

​"Tadi kepotong, A," sahutku.

​"Iya, kalau saya mah, pengennya ke Jepang, A," kata pria itu.

​"Oh, harus ikut LPK lah."

​"Iya, sebentar lagi mau daftar. Sudah ada inceran," jawabnya. Logat Sundanya terdengar tebal.

​"Kurang apa lagi emang?"

​"Duit."

​"Oh." Aku menyesap teh panas yang baru saja dituangkan.

​"Kurang berapa lagi?" tanyaku sembari membersihkan bibir.

​"Ah, kaya si Aa mau nambahin saja," pria itu tertawa pendek. 

"Yah, nanya doang sih, A. Saya juga mau ke Jepang soalnya."

​Ia terdiam sejenak, menatap uap dari tungku. "Tapi memang kudu pinter bagi duitnya, A. Popok, susu, ditambah ini. Tambah, bentar lagi lebaran."

​"Bener sih. Saya juga lagi tipis, belum gajian."

​"Makanya, kudu di eman-eman. Tapi kalau saya mah, A, mending dagang dulu," pria itu menyulut rokoknya.

​"Pinjam koreknya, A," kataku ikut menyundut rokok setelah ia selesai.

​"Kalau enggak dagang, enggak dapat duit ya, A?" lanjutku.

​"Nah, itu. Memang enggak seberapa sih, tapi fokus nabung buat biaya LPK. Pasti ada saja rezekinya," kata pria itu sembari mengembuskan asap ke arah jalanan.

***

Komentar

Postingan populer dari blog ini

PSK

Adil?

Human After All