Heri dan si Kuda Besi
Kisah ini kudapat dari seorang kawan, mentor, hingga partner bisnis, maupun kehidupan. Inilah kisah hidupnya yang hebat, hingga kupersembahkan tulisan ini untuknya.
Sebut saja namanya Heri. Segala macam bisnis dijalaninya. Mulai dari medio 90an, hingga sekarang.
Heri terkenal tangguh dan ulet. Terbukti, bisnisnya beberapa masih bertahan. Meski, tak sedikit pula yang gulung tikar. Kendala dinamika jaman katanya. Namun Heri selalu punya cara untuk beradaptasi.
Sore di penghujung 1999 contohnya. Ia baru saja memiliki dua unit komputer. Alat yang setiap pengusaha dambakan kala itu. Seakan, urusan dunia menjadi amat mudah dengan adanya komputer. Hingga santer terdengar isu bahwa, kiamat komputer akan terjadi pada tahun baru 2000. Yap, ia pun memakan isu itu mentah-mentah. Terjualah unit komputer baru yang ia miliki kala itu, tentu dengan harga yang bisa ditebak, amat murah. Ia lantas menyerah? Tentu tidak. Setelah terbukti kiamat itu tidak terjadi, ia 'balas dendam' dengan menjadi juragan komputer. Toko komputernya cukup tersohor hingga saat ini. Namun dengan berbagai alasan, baru-baru ini ia menutup beberapa cabang toko komputernya.
Itu hanya salah satu dari banyak kisah pengalaman hidup yang ia ceritakan. Tapi bukan disitu bagian menariknya.
Aku mengenalnya karena kesamaan hobi, roda dua. Umur kami terpaut jauh memang, tapi ia seakan menjadi teman sebaya untukku. Tidak ada penghakiman seperti "ah anak muda sekarang gak kaya jaman dulu" Atau kalimat senada lainnya. Selain itu, saran dalam hal peningkatan kemampuan berkendara, hingga pemilihan suku cadang, tak jarang ia berikan. Yap, kami bagai sahabat yang sudah saling mengenal 20 Tahun lebih. Bahkan hubunganku dengan anaknya cukup dekat.
Suatu saat, ia bercerita bahwa ia ingin sekali sebuah kuda besi. Tak baru, tapi cukup untuk mewujudkan mimpi masa mudanya. Sebuah kuda besi, bernama Harley Davidson Softail buatan tahun 1996. Motor yang punya identitas menurutnya. Ditambah, suara mesin yang menyerupai langkah derap kuda ketika berlari. Makin membuatnya ingin meminang sang suara kuda. Benar saja, tak sampai 2 hari, motor itu sudah ada dirumahnya.
Sebuah hal unik dimana, ia pernah berpesan kepadaku, "Kalau ingin punya HD(Harley-Davidson, red) gue saranin punya anak dulu. Karena panas mesinnya bisa membakar 'masa depan' pria". Kelakarnya membuat perutku geli. Kami menghabiskan waktu dengan penuh tawa. Momen terakhir sebelum hal yang tidak diinginkan terjadi.
---
Akhir pekan saat itu. Aku membunuh waktu dengan membersihkan rumah, dan tentunya motorku. Tak lupa mengatur ulang tata letak perabotan, hingga suasana menjadi lebih segar. Karena hampir dua tahun kedepan, pekerjaanku lebih banyak dikerjakan dirumah.
Suasana segar itu tak bertahan lama. Dering gawai berlangsung berkali-kali. "Ada apa nih?" Kataku dalam hati. Karena aku sama sekali tak berekspektasi adanya lonjakan momen, positif, maupun negatif.
Benar saja, kabar Heri masuk rumah sakit kuterima. Stroke katanya, dan harus segera dioperasi.
Aku ingin sekali menjenguknya, namun terhalang peraturan darurat tentang pandemi sialan ini. Hati kecilku pun juga takut untuk datang ke rumah sakit. Bagai rumah jagal menurutku saat itu. Maklum, aku baru sekali mengalami pandemi, dan waktu itu pun masih fase awal penyebaran. Wajar rasanya semua orang takut keluar rumah, apalagi harus ke rumah sakit.
Dua minggu berselang. Komunikasi antara aku dan anak tertua Heri tetap terjaga. Heri pun boleh dibawa pulang keesokan harinya. Sedih rasanya melihat kondisi orang yang kita kenal menjadi semenyedihkan itu. Tak bisa berjalan normal, wajahnya miring, tangan kanannya sulit bergerak.
Dalam sebulan, kusempatkan mampir sekali kerumahnya. Sekali lagi, kondisinya masih pandemi. Hingga suatu momen, aku berinisiatif untuk menyalakan sang kuda besi. Motornya susah sekali dinyalakan, karena semenjak sakit, motor itu tidak pernah dinyalakan. Hampir satu jam aku berusaha. Mulai dari menarik "choke", membanjiri karburator, hingga mencoba mengganti busi. Pengetahuanku akan motor Harley Davidson masih minim kala itu.
Hingga akhirnya, motor itu berhasil menyala. Suara derap kuda, the potato sound pun terdengar menggelegar. Suara gagah, bagai kuda perang yang siap melaju melibas musuh-musuhnya.
Heri yang sedari tadi diam tak berdaya di ruang tengah, berusaha susah payah berjalan menuju halaman belakang, tempat motornya terparkir. Ia terjatuh beberapa kali, aku tidak menyadari hal itu, karena fokusku adalah menjaga motor tetap menyala tanpa kendala. Akhirnya, sang anak yang menyadari dan menuntun Heri ke motornya.
Senyum tipis menghiasi wajah Heri. Ekspresi yang lama tidak kulihat. Ia menikmati tiap hentakan yang dihasilkan mesin V-Twin tersebut. Hal itu memercikan api kebahagiaan dihatiku. Kuputar gasnya, hingga mesin meraung tinggi. Bahkan hingga batas, kuputar saja tanpa peduli. Setelah itu kubiarkan motor itu menyala hingga Heri puas mendengar si kuda berlari-lari.
---
Pembatasan mobilisasi masyarakat pun mulai dikendorkan. Pandemi akhirnya terkendali. Segera kusambangi rumah Heri. Kondisinya jauh membaik. Komunikasi mulai lancar, sudah kembali belajar berjalan, walau harus dibantu tongkat. Aktivitas sehari-hari pun mulai tak dibantu penuh oleh istri ataupun anak-anaknya.
Mungkin hanya aku saja, atau memang pemulihan kondisinya cukup cepat? Aku sendiri pun tak bisa menjawab. Anaknya mengatakan, seminggu sekali Heri memintanya untuk memanaskan si motor, agar Heri dapat mendengarkan suaranya.
Hingga kini, aku tak bisa berhenti berpikir, bagaimana sebuah motor yang umurnya lebih tua dariku, bisa mengembalikan semangat hidup seseorang?
Komentar
Posting Komentar