Postingan

Adil?

Ia datang larut malam sekali. Masuk ke kamar hotel, dan langsung merebahkan tubuhnya ke sofa. Hampa. Badannya basah, memang hujan belakangan ini bagai amukan alam. Ia sempatkan mengambil handuk kecil, untuk mengeringkan wajahnya. Tapi tubuhnya, ia biarkan basah, seperti tak peduli lagi. Kemacetan ibukota juga masih terlihat dari balik jendela kamarnya. Gemerlapnya belum habis. Pemandangan yang menyimpan banyak cerita. Tapi seakan tidak berarti. Hari itu cukup berat baginya. Jika ia mengisahkannya pun, jarang yang akan mau mendengar. Sebuah kesalahan harus ia pikul sendirian. Masih segar nasihat sang ibu, dan banyak orang lain, tapi ia mengabaikannya. Cinta memang menyenangkan. Tapi buruk jika berlebihan. Jangan ditanya soal pengalaman ataupun kemampuan. Kodrat Tuhan bahwa ia punya paras rupawan. Ia akan hidup lebih nyaman, kan? Hotel itu punya fasilitas cukup mewah. Ornamen kayu asli, bergaya eropa klasik, sentuhannya berkelas. Kamar yang ia tempati pun berkelas, walau kalah deng...

Ketika Sang Helios Menjelma Jadi Manusia

Aku tak tahu, kisah permulaan mana yang bisa kupercaya. Jika memang keturunan  Mother Gaia,  Sang Helios bisa menjelma menjadi manusia, mungkin itu kamu. Aku menghadapi masa yang berat. Bolehlah sesekali, laki-laki satu ini berhenti sejenak, mengambil nafas, melihat keadaan sekitar, sebelum lanjut berjalan.  Masa berat itu, beriringan dengan suasana semu, kelabu. Bagai hujan di penghujung Desember. Minim cahaya, dingin, dan basah. Tak nyaman. Pilihannya hanya lanjut terus, atau menunggu. Sampai kapan menunggu? Tak tahu. Detik? Menit? Jam? Hari? Bulan? Tahun? Abad? Memang sudah kodrat, bahwa Helios menjadi pembawa cahaya yang lembut dan hangat. Membuat beberapa orang diluar sana menjadi pemuja, dan menyembah dirinya. Aku tak peduli siapa yang benar. Tapi aku yakin, ada wanita jelmaan Sang Helios, pembawa kehangatan dan kenyamanan. Bagai coklat panas dan selimut sutra di hari hujan kelabu. Bagai mercusuar penunjuk arah, hingga aku yakin, didepan sana, ada sesuatu yang besar...

Sang Kala Waktu

Berangkat dari kebodohanku, melihat masa lalu. Yah, belajar dari masa lalu tidak sepenuhnya menyenangkan.  Aku suka sejarah, bagaimana kisah-kisah dramatis, melankolis, hingga romantis tertulis.  Kepingan dan kepingan, sudut dan sudut, apakah sejarah punya lingkar? Tak hanya keping dan sudut? Mungkin aku yang meratapi sejarah. Terjebak romansa masa lalu, lupa akan masa depan. Tapi, buatku, ada satu sisi dalam diri ini yang terjebak di tahun tertentu. Tahun kiamat katanya. Hmmm, Ada benarnya, untuk sang sisi lain. Sialnya, semua hal di tahun itu, tergabung dalam satu bingkai, senang, sedih, dan sosok. Waktu memang terus berjalan, aku tak pernah salahkan Sang Kala.  Namun Sang Kala jadi guru terbaik, untuk setiap insan, atau beberapa saja. Aku? Aku menulis ini, sebagai monumen, atas rasa terima kasihku, kepada Semesta Alam, berikut segala perpanjangan tangan-Nya, yang membantu melewati waktu.  Melewati romansa masa lalu, jelmaan sang Dewi tercantik versi dunia Nordik, ...

Dua Sisi

 Pagi hari,  Aku harus bertemu seorang sahabat, yang lama tiada. Saat pemakamannya pun, aku tak sanggup hadir.  1000 hari berlalu, akhirnya aku bisa bertemu, walau hanya batu nisan dalam pandanganku. Tak kuasa air mata kubendung. Walau itulah kenyataan yang ada Sore hari, Aku mengantarkan seorang lagi sahabatku, untuk mengikat wanita idamannya, menjadi calon istri, bertunangan. Tanggal telah ditentukan, persiapan telah matang, tinggal menghitung hari, sampai bahagianya tiba. Dua sisi kehidupan, yang kuhadapi dalam kurang dari 12 jam, kesedihan, juga kebahagiaan.  Aku pun ada dikeduanya. Maka hanya yang ada dalam keheningan, yang ada dalam ketiadaanlah yang berhak menilai, mengatur, mengapa aku ada diantara keduanya.

Heri dan si Kuda Besi

Kisah ini kudapat dari seorang kawan, mentor, hingga partner bisnis, maupun kehidupan. Inilah kisah hidupnya yang hebat, hingga kupersembahkan tulisan ini untuknya.   Sebut saja namanya Heri. Segala macam bisnis dijalaninya. Mulai dari medio 90an, hingga sekarang.  Heri terkenal tangguh dan ulet. Terbukti, bisnisnya beberapa masih bertahan. Meski, tak sedikit pula yang gulung tikar. Kendala dinamika jaman katanya. Namun Heri selalu punya cara untuk beradaptasi.  Sore di penghujung 1999 contohnya. Ia baru saja memiliki dua unit komputer. Alat yang setiap pengusaha dambakan kala itu. Seakan, urusan dunia menjadi amat mudah dengan adanya komputer. Hingga santer terdengar isu bahwa, kiamat komputer akan terjadi pada tahun baru 2000. Yap, ia pun memakan isu itu mentah-mentah. Terjualah unit komputer baru yang ia miliki kala itu, tentu dengan harga yang bisa ditebak, amat murah. Ia lantas menyerah? Tentu tidak. Setelah terbukti kiamat itu tidak terjadi, ia 'balas dendam' dengan...

Human After All

You're human after all.  Sekuat-kuatnya pundak manusia,  Tuhan pasti maha adil.  Kebahagiaan hadir,  Kesedihan pun nyata.  Seperti kisah mereka.  Pernikahan, mesra bersama. Ratu dan raja sehari.  Hingga  Kehadiran sang bayi, tinggal menghitung hari.  Namun rupanya semesta punya cara lain. Jalan, untuk dilalui.  Meski hanya salah satu, dari tiga, yang boleh melintas.  You're human after all

Negeri Mimpi

Aku punya banyak mimpi Mulai dari keinginan sendiri, Hingga mimpi membangun negeri Membangun manusianya, Merawat alamnya, Membangkitkan ekonominya. Aku harus melangkah, Kecil, besar, dan tepat terarah, Tekad dan mimpiku harus tercurah.