Jazz
Tak habis kata untuk menggambarkan isi hatiku padamu. Biar sajalah semesta yang mengatur segalanya dengan segala rahasianya. Aku tak mau ikut campur.
Malam ini, suara emas Edith Piaf hingga Ella Fitzgerald menemani. Awalnya, aku hanya ingin tidur dengan mudah. Lantunan musik Jazz era itu memang sangat menenangkan. Tapi aku sadar, liriknya juga penuh akan rasa cinta, yang besar!
Makin kudengarkan, energi cinta yang terpancar dari lantunan irama itu, mengisi penuh raga. Bukannya kantuk yang kudapat, melainkan energi untuk menulis. Menulis rasa cintaku pada semesta, juga rasa cintaku padamu.
Kurasakan jarak yang tadinya amat jauh, ribuan mil, mendadak hilang. Amat dekat, hingga rasanya jiwaku menemukan pasangan sejatinya.
Akupun lupa, dengan keberadaan segelas teh, yang tadi kuseduh. Ah sayang sekali rasanya jika tidak minum teh selagi hangat. Tapi sudahlah, toh aku mendapatkan kehangatan baru dalam tubuhku. Masih ada sebatang tembakau sisa untuk dibakar. Kurasa itu cukup. Cukup untuk menghadirkan memori bahagia kita yang sebentar itu.
Jika aku boleh bertanya pada semesta, mungkin akan seperti ini bunyinya:
"Hai semesta dan pemiliknya, terima kasih telah menjadi bagianmu. Kau adalah pemilik kedamaian abadi, kebenaran abadi, dan keheningan abadi. Mengapa Kau pertemukan aku dengan nona manis nan anggun itu? bahkan aku jatuh cinta di setiap guratan penanya? setiap langkah kakinya? bahkan disetiap senyumnya? Lalu Kau pisahkan kami dengan jarak yang tidak dekat?"
Tapi biarlah itu menjadi rahasia. Semesta ini punya cara untuk menjawab pertanyaanku itu. Biarkan irama musik jazz itu tetap menemaniku hingga lelap...
Komentar
Posting Komentar