Individuasi
Aku punya kehidupan, sebagai individu. Keputusan apapun yang kuambil, adalah yang terbaik untuk diriku. Egois? Tidak. Manusia belum jadi manusia sempurna jika ia tidak mengenal dirinya sendiri. Bagaimana ia selesai dengan dirinya sendiri. Baru ia berurusan dengan individu lain. Tapi keputusan pertama, adalah yang baik untuk dirinya, baru untuk orang lain.
Akan jadi hal berbeda dalam ranah organisasi. musyawarah. Keputusan harus berdasarkan demokrasi. Vox Populli, Vox Dei, suara mayoritas, adalah suara Tuhan, katanya.
Kehidupanku adalah milikku sendiri. Sang pencipta pun memberikan kecerdasan, akal, pikiran, pada makhlukNya untuk bertahan di duniaNya. Dalam agamaku sendiri, tiap manusia pun harus jadi pemimpin, khalifah. Minimal jadi pemimpin untuk dirinya sendiri. Bukan mendirikan negara khilafah.
Cukuplah kalian dengan diri kalian sendiri. Hidupku adalah milikku, kalian dengan kalian. Pengetahuanku mungkin saja ketidaktahuanmu, begitupula sebaliknya. Saya tidak pernah meminta apapun dari kalian. Semua dari usahaku sendiri. Penilaian kalian, padaku, suatu saat, akan diadili dihadapan Tuhan. Penilaianku pun demikian.
"Barang siapa melihat keluar, dia bermimpi. Jika ia melihat kedalam, ia sadar", kata Carl Gustav Jung.
Mantep....
BalasHapusLanjutkan ceritanya...