Bali dan Nasionalisme
Pemuda Indonesia kehilangan nasionalismenya? Sering kali generasi milenial dan di bawahnya mendapat cap seperti itu. Kurangnya pendidikan kebangsaan di sekolah, ataupun penerapannya, adalah alasan utama golongan tua untuk menghakimi golongan muda seperti itu. Namun, apakah demikian?
Rupanya tidak.
Dilihat dari kasus, seorang wanita afro-amerika lesbian, yang meng courage sesamanya untuk tinggal di Bali selama pandemi. Tentunya dengan cara yang tidak legal. Ia mengajak sesamanya(lewat sosial media) untuk menggunakan visa khusus agar bisa pindah ke Bali, dan overstay serta bekerja di Bali. Yap, pastinya negara dirugikan, sedikit, atau banyak. Hal yang membuat makin runyam adalah, saat "diingatkan" oleh netizen, ia malah playing victim dengan mengatakan bahwa ia, seorang wanita kulit hitam, di bully di Indonesia.
Selama pandemi, Indonesia bahkan menetapkan peraturan bahwa tidak boleh ada wisatawan asing masuk, karena akan memperburuk kasus pandemi. Lonjakan kasus yang tinggi, lalu banyak tokoh yang terjangkit hingga wafat, dan juga rumah sakit yang mulai kewalahan, membuat kebijakan melarang wisatawan asing masuk, adalah hal yang bijak. Indonesia tidak melarang sepenuhnya orang asing untuk masuk. Ada orang-orang dengan visa khusus yang dibolehkan masuk. Visa inilah yang digunakan sang wanita tadi untuk mengakali kebijakan.
Ia juga mengatakan, bahwa jika tinggal di Bali adalah pilihan tepat, untuk "meningkatkan gaya hidup", daripada kesulitan tinggal di Amerika. Nilai dollar yang lebih tinggi dibanding rupiah, memang, sedikit banyak berpengaruh untuk gaya hidup. Paket e-book yang ia tawarkan pun berisi panduan lengkap tinggal di Bali (secara ilegal)
Lalu, mengapa kasus ini jadi bulan-bulanan netizen Indonesia? Yap, karena pemuda Indonesia, kasarnya, butuh "musuh bersama". Para pemuda netizen Indonesia, butuh sesuatu yang mengaktifkan sisi nasionalisme mereka. Kali ini, kasus si wanita afro-amerika lah yang jadi triggernya.
Banyak yang angkat bicara tentang gentrifikasi Bali seperti Hawai, dan keresahan-keresahan warga lokal Bali kepada turis asing. Beberapa tahun lalu, di Bali juga ada pegulat MMA, yang berani membunuh seorang polisi juga, kan? Pembuat onar yang menyengsarakan warga sekitar, dan akhirnya harus ditembak mati polisi. Siapa yang pertama bersuara akan keonaran sang pegulat Perancis botak itu? pemuda Bali yang bicara lewat media sosial.
Tapi, dengan adanya kasus ini, warga Bali, serta seluruh Indonesia, membuktikan gairah semangat kedaerahan serta nasionalisme pemuda Indonesia masih tinggi. Bela negaranya kaum milenial, gen z, dan generasi di bawahnya, punya cara sendiri. Cara yang unik, lucu, tapi tidak kehilangan esensi bernegara. Hanya butuh sedikit trigger, lalu nasionalisme mereka akan muncul, bahkan berapi-api. Pemuda Indonesia banyak yang tidak lupa akan dimana mereka tinggal, apa bendera yang ia bela, tidak lupa juga mereka lahir dari rahim ibu pertiwi yang sama.
Pemuda Indonesia tidak peduli asal negara siapapun yang melukai semangat kedaerahan mereka. Selama ia mencoreng semangat kedaerahan, serta nasionalisme mereka, tentu pemuda Indonesia jadi garda depan, menjadi suar bernegara, dengan caranya sendiri. Pemuda yang selama ini dianggap oleh mereka para senior telah kehilangan pendidikan bernegara.
Konflik horisontal antar pemuda milenial dan dibawahnya, tidak jauh dari tim bubur diaduk atau tidak diaduk, pilih gabung tim Do-San atau tim Ji-Pyeong, atau sejenisnya. Lucu kan?
Semakin bagus...
BalasHapusMantep...