Bagai Dua Api Tanpa Udara
Di banyak kalangan, budaya, society, dan di banyak lingkungan di bumi ini, pagi, seakan jadi simbol untuk awal permulaan baru. Tidak salah, pagi memang jadi awal permulaan untuk banyak orang, namun tidak semua. Untuk sebagian orang, pagi bisa jadi sebuah akhir.
Pagi, memang selalu memberikan pemandangan indah, walau di daerah kumuh sekalipun. Pagi jadi simbol pengharapan, akan hadirnya rejeki hingga keberuntungan sepanjang hari. Tidak ada kopi ataupun teh yang diminum senikmat pagi hari. Kopi senja memang sedang populer, tapi rasanya itu hanya sebatas klise, dianut kaum yang sudah memasrahkan hidup pada semesta yang tak mereka kenali.
Pagi, saat aku menyadari, jiwaku ingin bersatu dengan jiwanya. Apakah jiwanya juga demikian?
Dia datang bagai air bah yang membanjiri tiap-tiap nadi dan vena dalam kebahagiaan yang tak kunjung habis. Memberikan kehangatan yang tak pernah kurasakan. Meluruskan kembali hidup, juga memberi arah yang jelas. Jika aku hanya peta, dialah kompasnya. Ya! aku harus bersatu dengannya!
Namun tetiba dia harus kembali menjadi abdi.
Apakah pagiku ini akan menjadi akhir? atau awal? Semoga kedua api kembar ini kembali kerumahnya.
Komentar
Posting Komentar