Teh Melati

Buatnya, tidak ada yang lebih dirindukan daripada aroma hujan. Aroma khas yang membuatnya nyaman, dan menenangkan hatinya. Ditemani segelas teh hangat, macam orang inggris saja, ia mulai menikmati setiap detail kehidupan yang diberikan Tuhan.

Senyuman satir, hanya itu yang ia lakukan setelah meminum sedikit teh nya. Masih cukup panas ternyata. Tapi biarlah, daripada meminum teh yang terlanjur dingin. Wangi melati amat kental dalam teh itu. Bukan teh yang terbaik dan termahal dipasaran. Cukup teh buatan kampung, kampung yang tidak tau dimana. Dan ia pun sudah merasa cukup dengan menikmati teh manis murah, dari cangkir dan teko yang mahal. 

Ia memilih menyendiri di sebuah sudut kecil dekat jendela, yang langsung tersaji pemandangan yang luas. Sayangnya, saat itu berkabut, bagai hatinya. Pandangannya menuju meja kayu dengan ukiran mahal , tapi pikirannya melayang jauh. Jauh sekali dimasa lalu. Masa dimana ia pernah bahagia dengan seseorang, yang sekarang tidak akan pernah ia miliki. Ia malu dengan dirinya waktu itu. Kenapa ia begitu takut dan ragu. Tapi waktu berlalu. 

Ia memilih menyendiri, rumahnya yang besar itu, kosong. Hanya ia dan pelayannya saja yang tinggal disitu. Tempat tinggal mewah, tapi terkesan suram, bagai tidak ada gairah apapun. Padahal ia masih cukup muda.

Ia pun bersandar, mencoba membuat tubuhnya santai. Lalu, ia meminum sisa teh melati yang tinggal sedikit itu, dan memejamkan mata. Mata yang tidak pernah terbuka kembali di dunia ini.

"Berikan beberapa dari hartaku untuk sekolah bu Nadya, istri dari pak Aryo. Sekolah itu harus berkembang, dan tidak boleh tutup. Mungkin uangku bisa membantu menjalankan sekolah itu untuk beberapa tahun kedepan. dan sisihkan juga untuk diberikan ke rumah yatim piatu di pojokan jalan, bu Nadya sering mengajar disitu setelah jam sekolah usai.  Sisakan juga beberapa untukmu, pakde dan bude karyo, untuk kelangsungan keluargamu. Terima kasih telah jadi pengganti papa-mama, aku akan nyusul mereka." Tulisan tangan rapi nan terpelajar, tercurah diatas kertas kuning nan tua, Disamping secangkir teh melati, yang kini dingin, dan kosong.

Bu Nadya tidak pernah tau, bahwa ada lelaki yang mencintainya, sampai akhir hidupnya. Ia hanya tau, lelaki dermawan yang memberi sumbangan besar itu adalah teman akrab masa kuliahnya, tidak kurang, tidak lebih.









Komentar

Postingan populer dari blog ini

PSK

Adil?

Human After All