Rasa
Hey, aku sudah lelah dengan permainan petak umpet ini. Siapa kamu sebenarnya ? Kita dipertemukan, lalu dipisahkan kembali dalam sekejab bagai komet yang melintasi bumi.
Perasaan macam apa ini ? ah
Kadang, saat terjaga di malam hari, halusinasi itu muncul. Bayangan tentang apa yang mungkin pernah terjadi. Mungkin juga tidak. Yah, mungkin hanya sekedar bayangan.
Namun, jika itu tidak pernah terjadi, mengapa tulang rusuk ini terasa diganjal sesuatu?
Hampa, tapi terisi.
Rasanya, aku ingin memulai semuanya dari awal, bahkan kalau bisa, dari awal kehidupanku sebelumnya, dan sebelumnya lagi.
Kita tidak pernah terhubung oleh tali kasat mata. Tidak seutas pun pernah mengikat kita. Akan tetapi, mengapa nadi ini justru diselubungi rantai besar yang siap mencengkram? Dingin, lesu, namun dibalik itu, tangan ini siap terkunci didekapannya.
Apakah kita benar-benar pernah bertemu? Semua ini bagai di negeri dongeng. Dimana masing-masing individu harus saling mencari untuk dipertemukan kembali?
Dan kenangan itu muncul sekelebat. Dimana kita harus menempuh jarak yang tidak dekat, demi desiran ombak pantai yang tidak indah sama sekali. Dan hanya itulah hal yang bisa kita nikmati. Berbagi kebahagiaan, kesedihan, juga semangat. Kenangan itu tidak dapat kulupakan. yah, mungkin nanti akan kuceritakan pada anak cucu. Entah anak cucu kita atau anak cucu masing-masing. Karena tidak lama setelah kita berbagi kenangan itu, tibalah hal yang membuat kita berpisah.
Samudera yang membentang itu terlalu luas. Saat ini, aku tak kuasa untuk menaklukannya. Horizon demi horizon terus muncul di pelupuk mata. Hingga senja berganti bintang-bintang, belum ku temukan cara untuk dapat kembali berbagi kenangan denganmu. Untuk kembali berbagi cerita, atau mungkin cinta ?
Perasaan macam apa ini ? ah
Kadang, saat terjaga di malam hari, halusinasi itu muncul. Bayangan tentang apa yang mungkin pernah terjadi. Mungkin juga tidak. Yah, mungkin hanya sekedar bayangan.
Namun, jika itu tidak pernah terjadi, mengapa tulang rusuk ini terasa diganjal sesuatu?
Hampa, tapi terisi.
Rasanya, aku ingin memulai semuanya dari awal, bahkan kalau bisa, dari awal kehidupanku sebelumnya, dan sebelumnya lagi.
Kita tidak pernah terhubung oleh tali kasat mata. Tidak seutas pun pernah mengikat kita. Akan tetapi, mengapa nadi ini justru diselubungi rantai besar yang siap mencengkram? Dingin, lesu, namun dibalik itu, tangan ini siap terkunci didekapannya.
Apakah kita benar-benar pernah bertemu? Semua ini bagai di negeri dongeng. Dimana masing-masing individu harus saling mencari untuk dipertemukan kembali?
Dan kenangan itu muncul sekelebat. Dimana kita harus menempuh jarak yang tidak dekat, demi desiran ombak pantai yang tidak indah sama sekali. Dan hanya itulah hal yang bisa kita nikmati. Berbagi kebahagiaan, kesedihan, juga semangat. Kenangan itu tidak dapat kulupakan. yah, mungkin nanti akan kuceritakan pada anak cucu. Entah anak cucu kita atau anak cucu masing-masing. Karena tidak lama setelah kita berbagi kenangan itu, tibalah hal yang membuat kita berpisah.
Samudera yang membentang itu terlalu luas. Saat ini, aku tak kuasa untuk menaklukannya. Horizon demi horizon terus muncul di pelupuk mata. Hingga senja berganti bintang-bintang, belum ku temukan cara untuk dapat kembali berbagi kenangan denganmu. Untuk kembali berbagi cerita, atau mungkin cinta ?
Komentar
Posting Komentar