Kembang Gula
Dulu, aku suka sekali makan kembang gula, atau yang biasa dikenal dengan gulali. Rasanya yang manis dalam balutan warna warni, sungguh ingin kembali memutar waktu rasanya. Tidak ada perasaan lain di hati selain riang gembira.
Saat itu, tidak jarang aku menyisihkan uang jajan untuk membeli gulali. Selain rasa dan warna, ada satu hal lagi yang memunculkan kenangan masa kecil ini, yaitu cara si penjual membuat gulali. Hanya bermodal sepeda, dan tentunya mesin pembuat gulali, berhasil memikat hatiku dan teman-temanku saat itu. Kita semua sumringah melihat abang gulali dengan telaten memutar-mutar batang lidi, dan perlahan, gula berwarna yang dimasukkan kedalam mesin pun, berubah menjadi helai-helai yang berwarna pula. Yah, saat itu harga gulali masih 500 rupiah, jika ingin yang besar, harganya 1000-1500 rupiah. Cukup mewah untuk anak anak masa itu.
Suatu saat, ibuku memarahiku habis habisan. Gigiku berlubang karena terlalu sering makan gulali. Mungkin aku akan merindukan kemarahan itu, karena aku tidak akan mungkin dimarahi, atau sebaliknya,disayang, lagi sekarang. Tugasku sekarang hanya mengirimkan doa untuknya.
Beranjak dewasa, gulali menjadi hal biasa. Tidak menjadi hal yang kutunggu-tunggu lagi. Aku bisa dengan mudah membeli gulali tanpa harus menyisihkan uang jajan. Namun, ada satu hal yang membuatku rindu akan manisnya gulali. Manis sekali hingga bukan gigiku lagi yang akan berlubang, tapi hati.
Kembang gula yang satu ini, manisnya jauh lebih manis dari kembang gula. Dan sudah pasti, akan ada banyak semut yang mengerubungi. Diriku kah semut itu? Kurasa bukan.
Sayang, kembang gula itu dimiliki orang lain. Tapi orang itu nampaknya tidak mengerti betapa manisnya kembang gula itu, dan membiarkannya begitu saja. Jika ia ingin kembang gula itu lagi, baru ia mengambilnya kembali. Kau sudah dewasa nak, kembang gula itu milikmu, maka bertanggung jawablah dengan menghabiskannya. Bukan hanya sekedar menjadi pemenuh keinginan dengan hanya menikmati sebagian kecil saja lalu membiarkannya.
Ah gulali
Saat itu, tidak jarang aku menyisihkan uang jajan untuk membeli gulali. Selain rasa dan warna, ada satu hal lagi yang memunculkan kenangan masa kecil ini, yaitu cara si penjual membuat gulali. Hanya bermodal sepeda, dan tentunya mesin pembuat gulali, berhasil memikat hatiku dan teman-temanku saat itu. Kita semua sumringah melihat abang gulali dengan telaten memutar-mutar batang lidi, dan perlahan, gula berwarna yang dimasukkan kedalam mesin pun, berubah menjadi helai-helai yang berwarna pula. Yah, saat itu harga gulali masih 500 rupiah, jika ingin yang besar, harganya 1000-1500 rupiah. Cukup mewah untuk anak anak masa itu.
Suatu saat, ibuku memarahiku habis habisan. Gigiku berlubang karena terlalu sering makan gulali. Mungkin aku akan merindukan kemarahan itu, karena aku tidak akan mungkin dimarahi, atau sebaliknya,disayang, lagi sekarang. Tugasku sekarang hanya mengirimkan doa untuknya.
Beranjak dewasa, gulali menjadi hal biasa. Tidak menjadi hal yang kutunggu-tunggu lagi. Aku bisa dengan mudah membeli gulali tanpa harus menyisihkan uang jajan. Namun, ada satu hal yang membuatku rindu akan manisnya gulali. Manis sekali hingga bukan gigiku lagi yang akan berlubang, tapi hati.
Kembang gula yang satu ini, manisnya jauh lebih manis dari kembang gula. Dan sudah pasti, akan ada banyak semut yang mengerubungi. Diriku kah semut itu? Kurasa bukan.
Sayang, kembang gula itu dimiliki orang lain. Tapi orang itu nampaknya tidak mengerti betapa manisnya kembang gula itu, dan membiarkannya begitu saja. Jika ia ingin kembang gula itu lagi, baru ia mengambilnya kembali. Kau sudah dewasa nak, kembang gula itu milikmu, maka bertanggung jawablah dengan menghabiskannya. Bukan hanya sekedar menjadi pemenuh keinginan dengan hanya menikmati sebagian kecil saja lalu membiarkannya.
Ah gulali
Komentar
Posting Komentar