Cerita dari bandara Soekarno-Hatta

Bandara, untuk sebagian besar orang, mungkin hanya tempat berlabuh untuk pesawat terbang. Namun, di bandara ternyata menyimpan berbagai kisah menarik.

Saat itu, di terminal 2f bandara Soekarno-Hatta, saya sedang mengantarkan seseorang yang akan kembali ke kampung halamannya, di Shiga, Jepang. Seorang wanita mandiri yang ikut pertukaran pelajar ke Indonesia. Ia amat tertarik dengan Indonesia karena keberagamannya, juga karena Indonesia amat dikenal dengan penduduk muslim terbanyak nomor 1 di dunia. Dan ia harus pulang malam itu karena batas visa dan berbagai hal lain.

Yah, tidak ada perpisahan yang tidak menyedihkan. Walaupun tidak ada air mata yang turun, kita pasti tahu ada rasa yang tidak enak di hati saat harus berpisah dengan seseorang. Dan hal itulah yang persis saya rasakan. Berbagai momen yang terbagi bersama, hanya tinggal sebatas kisah.

Ah pikiran ini bagai diaduk dalam sebuah mangkuk besar bernama perasaan. Memang seharusnya hati tidak melawan pikiran, dan pikiran tidak boleh arogan terhadap hati. Semuanya harus berjalan beriringan. Tapi saat menghadapi sesuatu seperti perpisahan, saya tidak tahu pasti bagaimana sikap yang tepat.

Saat pikiran saya tenggelam di sudut kecil bandara karena harus berpisah, justru saya sadar bagaimana banyak orang yang terbawa haru, harus berpisah dengan teman, sahabat, keluarga, kolega, apapun relasinya, mereka mengeluarkan emosi yang beragam, namun dalam hatinya, saya amat yakin pasti sama.

Saya ingat betul bagaimana seorang ibu, yang awalnya masih bercengkrama riang dengan dua orang cucu nya, mendadak berubah menjadi tersedu-sedu saat nomor pesawat keluarga anaknya dipanggil. Pelukan erat, dihiasi air mata, dan ucapan selamat tinggal yang lirih, ah saya terbawa suasana.

Di sisi lain, ada rombongan besar. Semua orang di rombongan itu, berpakaian ala lembaga mahasiswa muslim. Kecuali 1 orang yang berpakaian necis, lengkap dengan jas dan dasi. Itulah orang yang akan berangkat ke luar negeri, entah dia mendapatkan beasiswa atau apapun. namun saya salut, orang itu dilepas dengan bahagia oleh sisa rombongan. Tidak ada haru, tidak ada drama, hanya senyuman yang merekah, bangga karena salah satu  kawannya telah berhasil ke luar negeri.

Tidak lama, ada sebuah keluarga kecil, sepasang suami-istri dan 1 anaknya yang masih bayi. Sang suami harus bekerja di luar negeri, dan harus rela meninggalkan keluarga kecilnya. Saya terus memperhatikan ekspresi sang istri, hanya terlihat senyum satir, ekspresi antara kebahagiaan dan kesedihan.

Berbeda dengan dua orang kolega profesional di pintu masuk, mereka tetap berbincang masalah bisnis walaupun tahu salah seorang dari mereka harus pergi. Sikap profesional selalu mereka tampilkan, dan ditutup dengan jabat tangan khas nan hangat.

Sedangkan saya? Hanya termenung di sudut kecil bandara, dan berpikir, kapan saya ada di posisi mereka? bukan di posisi orang yang pergi keluar negeri dengan cara biasa untuk sekedar plesir atau menghabiskan uang, tapi orang yang akan ditunggu kehadirannya saat kembali dari negeri asing sana.

Ah, perpisahan memang pasti, dan saya benci itu. Saya sudah cukup berpisah dengan orang orang yang saya sayangi. rasanya ingin mengemis kepada Yang Maha Kuasa. Memohon untuk tetap bersama orang orang yang saya sayangi, dan tidak ada kata berpisah lagi. Tapi mustahil rasanya.

Mungkin, hanya kalimat "Not goodbye, but see you again" yang sedikit bisa mengobati.

Komentar

Postingan populer dari blog ini

PSK

Adil?

Human After All